Coklat Merah dan Kuning Ilustrasi Foto Kolase_20250914_175336_0000.png


Dalam perjalanan pulang, Cipa tertidur pulas di kursi mobil. Siang itu udara panas sekali, jadi aku memutuskan untuk langsung membawanya ke rumahku agar bisa istirahat. Sesampainya di rumah, aku mulai menyiapkan makan siang di dapur. Baru sebentar mengiris bumbu, terdengar suara langkah kecil. Rupanya Cipa sudah bangun; rambutnya masih acak-acakan, matanya setengah terpejam, tapi senyumnya lebar.

“Gemaaa… lagi masak ya? Aku ikut liat,” katanya sambil menarik kursi kecil lalu duduk manis di dekat meja. Aku tersenyum, “Iya, Sayang. Gema masak buat kita berdua.” Cipa mulai menghirup aroma makanan yang hampir matang itu “Hmm… baunya enak banget. gema masak apaa?” tanya Cipa. “Sayur sama lauk buat makan siang” kataku, “Waaah, Cipa jadi laper,” ujarnya sambil memegang perut.

Selama aku masak, Cipa tidak berhenti berceloteh. Kadang pura-pura mengaduk mangkuk kosong dengan sendok kecil, kadang memainkan sayuran yang sudah dicuci. Bukannya benar-benar membantu, tapi kehadirannya membuat dapur jadi lebih hidup. Tiba-tiba ia bertanya dengan wajah serius, “Gema gema, kalau Gema sendirian terus di rumah, ngga takut ya?” Aku menoleh sebentar dan tersenyum. “Nggak kok. Kalau ada Cipa, rumah Gema jadi rame. Gema seneng banget kalau Cipa main ke sini.” Cipa mengangguk mantap. “Ya udah, nanti Cipa sering-sering ke sini. Biar Gema nggak kesepian.”

Tak lama kemudian masakan matang. Kami duduk bersama di meja makan, dan Cipa langsung menyantapnya dengan lahap. “Gema, ini enak banget! Lebih enak dari masakan papa,” katanya sambil cekikikan. Aku terbahak, “Eits, jangan gitu. Papamu nanti cemburu, loh” kataku, dia ikut tertawa.

Aku hanya bisa tertawa lagi sambil mengusap kepalanya. Hari itu, makan siang sederhana terasa begitu istimewa karena ada Cipa dengan segala celotehnya yang membuat suasana rumah jauh lebih hangat.