
Sore itu rumah dipenuhi tawa kecil Cipa. Ia berputar-putar dengan rok ungu kesayangannya, bunga di tangan, dan boneka beruang yang selalu ia bawa ke mana-mana. “Gemaaa… lihat aku! Aku princess hari ini!” serunya riang sambil tersenyum lebar.
Aku melirik sebentar dari meja kerja, lalu kembali menatap layar. “Iya, Sayang… cantik banget princessnya.” Tanganku tetap sibuk dengan pekerjaan, padahal hatiku tahu ia sedang menunggu lebih dari sekadar jawaban singkat.
Tak lama kemudian suara cerianya hilang. Saat aku menoleh, Cipa duduk diam sambil memeluk bonekanya. Wajahnya murung, bibirnya manyun.“Kenapa, sayang?” tanyaku pelan.“Princess nggak bisa main sendirian…” jawabnya dengan suara lirih. “Kalau Gema sibuk terus, siapa yang jagain aku?”
Aku terdiam sejenak. Kalimat polos itu langsung menusuk perasaan. Tanpa pikir panjang, aku menutup laptop dan mendekatinya. Kuusap pipinya yang cemberut, lalu berkata lembut, “Maaf ya, Princess Cipa. Mulai sekarang Gema janji jadi pengawal kerajaanmu. Nggak boleh ninggalin princess sendirian lagi.”
Seketika wajah murung itu berubah jadi senyum cerah. Matanya kembali berbinar, tawanya kembali pecah. “Yeay! Tapi inget ya, Gema. Kalau ninggalin aku lagi, nanti kerajaan ini marah besar!” katanya sambil menunjuk ke arahku dengan gaya sok berkuasa.
Aku tertawa sambil pura-pura membungkuk hormat. “Siap, Yang Mulia. Gema janji setia sama princess.” Dan akhirnya sore itu, bukan pekerjaan yang jadi penting, tapi momen sederhana bersama princess kecilku yang membuat rumah terasa seperti istana penuh kebahagiaan.